Minggu, 10 Januari 2016

Kebodohan-Kebodohanku


Kebodohanku yang pertama adalah menemukanmu di sana, berbicara sebentar, bercanda, dan kemudian mengagumimu. Seperti menemukan aku yang lain yang selama ini tidak pernah kutemukan. Seperti berbicara dengan diri sendiri dan berdiskusi tentang hal-hal yang aku sukai.

Kebodohanku yang kedua adalah mencintaimu. Ya, dengan bertemu sesering itu dan kenyataan bahwa aku melakukan kebodohan awal dengan ‘mengagumimu’, sepertinya memang tinggal menunggu waktu sampai tahap aku mencintaimu. Dan waktunya sudah datang sekarang. Sebenarnya aku belum siap, tapi kenyataannya, kedatangannya memang terlalu cepat. Dan hatiku yang jatuh itu, aku menunggu untuk kamu tangkap.


Kebodohanku yang ketiga adalah menunggumu. Menunggu sampai kamu bersiap menangkap hatiku yang jatuh setelah itu. Aku sampai menghitung hari, jam, dan detik; bertanya-tanya apakah sekarang waktunya kamu menangkap hatiku? Sejam kemudian bertanya lagi, apakah sekarang? Sehari kemudian masih bertanya lagi, apakah sekarang? Sampai kemudian semuanya buyar sejak kedatangan lelaki itu.

Kebodohanku yang keempat adalah masih mencintaimu. Ya. Bahkan ketika lelaki itu datang dan mengambilmu dari semua kesempatan kita bertemu, aku masih juga mencintaimu. Berpura-pura sangat tahu bahwa cintamu kepada lelaki itu adalah sementara. Cepat atau lambat cintamu akan pudar

Kebodohanku yang kelima adalah itu, masih menunggumu. Sialnya, ternyata cintamu tidak segera memudar. Kamu, berbahagia dengannya. Menikmati setiap menit kebersamaanmu dengannya. Hingga pada suatu malam, perasaanku begitu menggebu saat bertatap mata yang lama untuk pertama kalinya denganmu.apakah maksut semua itu?sudahkah kau melupakan lelaki itu?sudah pudarkah rasamu itu untuknya?ya dan akhirnya kau menangkap hatiku dan pastinya aku siap untuk terjatuh kembali terjatuh dalam kesakitan yang luar biasa dan sekarang adalah saat itu.saat yang tak pernah aku inginkan.

Kebodohanku yang keenam adalah melanggar keputusanku sendiri dengan memilih untuk tetap mencintaimu. Ya. Ini terasa bodoh sekali. Ternyata, aku lebih memilih terus sakit hati daripada pergi. Dan untuk beberapa waktu kemudian aku harus bersiap untuk terus menerus sakit hati.

Di momen ini lagi, dunia mengutukku dan membela habis-habisan hatiku yang menjadi luka karena keegoisanku.

Kebodohanku yang ketujuh adalah tetap menunggumu. Dan akan terus begitu sampai kau mengambil hatiku kembali.

Bagikan

Jangan lewatkan

Kebodohan-Kebodohanku
4/ 5
Oleh