Aku bisa saja tetap ‘mengganggumu’ dengan pesan-pesan ‘Apa kabar?’ atau ‘Lagi apa?'.
Aku bisa juga meneleponmu hanya untuk mendengar suaramu dan membuatmu terbiasa dengan perbincangan-perbincangan kita maupun keberadaanku.
Apapun selama aku bisa sekadar menyiratkan, “Hai! Aku di sini. Aku ada. Lihat aku.”
Aku bisa saja tetap berharap kalau suatu saat kamu akan mengerti aku, mengatakan kalau kamu menyadari perasaanku dan kamu merasakan yang sama. Harapan yang tidak juga hilang meski sudah berusaha berulang kali kulupakan.
Aku bisa terus menganggap kamu yang terbaik untukku, tidak ada yang lain. Lalu mengabaikan orang-orang di sekelilingku. Mengabaikan kelebihan-kelebihan mereka karena aku hanya terfokus pada kelebihan-kelebihanmu. Kamu, dan hanya kamu. Seperti ada banyak lilin di suatu ruangan, tetapi hanya satu lilin yang aku perhatikan.
Aku bisa saja tetap di sini, menunggu.
Tetapi, seberapa lama pun aku menunggu, hasilnya akan sama saja kalau bahkan kamu saja tidak pernah berpikir tentangku.
Bagikan
PERCUMA
4/
5
Oleh
aalnov
